POLA ASUH SALAH
#Psikologi
#InnerChild
Ini kisah yang entah ke berapa kali yang mampir di messenger saya.
Lagi-lagi masih tentang Luka pengasuhan masa lalu.
Seorang ibu yang tanpa sadar sering melakukan kekerasan fisik maupun verbal kepada anak-anaknya.
Apakah dia tak sayang dengan anak-anaknya?
Dia sayang, cinta!
Tapi seringkali hal itu dilakukannya di bawah alam sadar.
Dan itu terjadi karena respon bawah sadarnya telah merekam semua pola pengasuhan
yang sama yang diterimanya dari orang tuanya.
Ya, jiwanya terluka, dan luka itu masih tersimpan sampai kini.
Dia membenci orangtuanya atas apa yang diterimanya sewaktu kecil dan kemudian melampiaskan kepada anak-anaknya.
Dan anak-anaknya pun berpotensi membencinya juga akan melakukan hal yang sama pada anak-anaknya kelak, berulang.
Itulah yang disebut mata rantai luka pengasuhan.
****
Luka Pengasuhan adalah adanya beban psikologis/luka batin/mental illness sebab kekeliruan pola asuh orangtua di masa lalu yang pernah diterima.
Cara paling sederhana untuk mendeteksi apakah kita punya luka pengasuhan atau tidak adalah dengan mencermati:
Adakah "Respon Error" dari diri kita?
Respon Error adalah respon yang tidak sesuai dengan stimulannya, bahkan cenderung berlebihan dan tidak terkendali.
Kok bisa?
Ya bisa, karena Respon Error tersebut keluar secara otomatis sebab tertanam kuat di bawah sadar.
Contoh respon error adalah saat kita dilanda amarah karena berbagai sebab, saat melihat anak membuat sedikit kesalahan, entah rewel ataupun menangis, spontan mulut kita akan membentak, spontan tangan kita begitu ringan melayang melakukan kekerasan, tanpa sempat kita berfikir bahwa yang kita lakukan itu salah.
Luka Pengasuhan ini intensitas error-nya akan terasa semakin kuat setelah menikah, dan semakin kuat lagi setelah menjadi orangtua.
Mengapa bisa demikian?
Sebab dahulu luka tersebut datang dari keluarga, maka setelah berkeluarga, kenangan buruk tentang keluarga jadi jauh lebih mudah bangkit sebab situasinya yang mirip-mirip bisa menjadi stimulan.
Inilah yang menjadi urgensi kenapa proses Healing terhadap Luka Pengasuhan sebaiknya dilakukan segera setelah terdeteksi, karena semakin ia diabaikan, itu tidak akan menjadikannya hilang, namun justru berpotensi semakin buruk sebab dipendam lebih lama, dan jelas--akan membawa dampak negatif bagi diri dan juga pasangan dan anak (jika sudah berkeluarga).
Siapa korbannya?
Tentu saja anak-anak, buah hati yang kita tunggu kehadirannya bahkan dengan bertaruh nyawa.
Dan kemudian peristiwa itu akan berulang lagi, lagi dan lagi.
Dear ibu,
Memang betul melupakan luka yang sedemikian perih tidaklah mudah.
Tetapi menjadi pemutus mata rantai luka pengasuhan adalah suatu kemuliaan.
Maka,
Maafkan, buka pintu maaf yang seluasnya untuk orang tua yang telah menorehkan luka itu.
Ikhlaskan, ikhlaskan hati untuk menerima hal buruk itu sebagai bagian dari takdir yang telah Allah tentukan atas diri kita.
Lupakan, memang tidak mudah, tapi bukan berarti tak bisa.
Setidaknya kita harus berjuang untuk melupakan. Saat teringat, alihkan perhatian, alihkan pikiran kita terhadap sesuatu yang menyenangkan.
Ini semua demi buah hati kita. Manusia berhati suci yang kelak bisa menjadi sebab penentu kemana kita akan menuju di tempat abadi, akhirat.
Perlakuan buruk orangtua dulu itu adalah masa lalu, sedangkan perlakuan burukmu terhadap anak-anak sekarang adalah masa depan.
Ibu, kita hidup untuk masa depan kita bukan masa lalu kita.
Jadilah pemutus mata rantai pengasuhan ini, jika bukan diri kita siapa lagi.
Jangan sampai terlahir bibit-bibit kebencian baru.
Yuk BISA!
Bismillah ....
Semoga Allah mudahkan.
Peluk erat dengan cinta🤗💞
✍️ Titin Sudiyono Tisa Sudiyono
🌸 Rekomendasi Grania dress, untuk order klik sja tulisan biru ini https://shp.ee/deec923
